Harga Mobil Listrik Bekas Anjlok, Pedagang Gelisah Hadapi Strategi Merek China

Mobil listrik semakin populer di Indonesia dan dunia. Namun, tren ini menimbulkan tantangan baru, terutama bagi pedagang mobil bekas. Penurunan harga mobil listrik baru secara drastis oleh produsen, terutama dari China, membuat nilai jual kembali mobil listrik bekas tidak stabil. Akibatnya, para pedagang kini lebih berhati-hati bahkan menghindari menjual mobil listrik bekas karena potensi kerugian yang besar.

Pedagang Mobil Bekas Mulai Menghindar dari Mobil Listrik

Fluktuasi harga mobil listrik bekas menjadi kekhawatiran utama para pelaku usaha jual-beli mobil. Hal ini diungkapkan oleh seorang pedagang sekaligus konten kreator TikTok, @dreelitegarage. Dalam videonya, ia menjelaskan bahwa harga jual mobil listrik bekas bisa turun ratusan juta hanya dalam hitungan bulan.

Menurutnya, strategi banting harga dari produsen—terutama dari merek China—membuat harga pasar mobil listrik sangat tidak stabil. “Kita bisa rugi besar. Mobil listrik Rp500 juta bisa turun Rp200 juta hanya dalam setahun,” ungkapnya.

Strategi Harga Merek China Picu Depresiasi Cepat

Dominasi produsen mobil listrik asal China seperti BYD, Chery, dan Geely bukan hanya berdampak pada pasar global, tetapi juga mengganggu ekosistem mobil bekas lokal. Dengan teknologi yang terus berkembang dan harga mobil baru yang terus ditekan, mobil listrik generasi lama cepat kehilangan nilai jualnya.

“Brand-brand China main harga, kita di pasar bekas jadi sulit ngikutin. Bisa nyangkut, modal enggak balik,” kata Dre lagi.

Mobil Listrik Baru Murah, Mobil Bekas Sulit Laku

Jany Candra, Presiden Direktur PT Autopedia Sukses Lestari Tbk., juga mengungkapkan hal serupa. Ia mengatakan, “Harga mobil listrik bekas cenderung turun drastis karena produsen terus merilis teknologi baru dengan harga yang sama atau lebih murah.”

Jany juga menjelaskan bahwa mobil listrik bekas masih jarang di pasar karena mayoritas pembelian mobil listrik baru terjadi dalam 2–3 tahun terakhir. Artinya, suplai mobil listrik bekas yang stabil baru akan hadir saat kredit mobil mulai lunas, sekitar tahun ke-4 atau ke-5.

Perawatan dan Layanan Purna Jual Masih Dipertanyakan

Selain harga yang tidak stabil, ketidakpastian terkait perawatan dan ketersediaan layanan purna jual juga menjadi faktor yang membuat pedagang mobil bekas ragu.

“Banyak konsumen belum paham bagaimana merawat mobil listrik. Layanan purna jual juga masih terbatas. Ini yang membuat pedagang makin enggan menjual mobil listrik bekas,” ujar Jany.

Minimnya Pengetahuan Teknis Mobil Listrik Jadi Kendala Tambahan

Pedagang mobil bekas juga menghadapi tantangan dalam mengevaluasi kondisi mobil listrik. Berbeda dengan mobil berbahan bakar konvensional, mobil listrik memiliki sistem kelistrikan dan baterai yang lebih kompleks.

“Pengetahuan teknis pedagang terhadap mobil listrik masih rendah. Risiko beli mobil rusak jadi lebih besar,” lanjut Jany.

Kesimpulan: Pasar Mobil Listrik Bekas Butuh Edukasi dan Regulasi

Tren mobil listrik yang berkembang pesat perlu diimbangi dengan edukasi dan regulasi yang jelas, terutama terkait harga jual kembali, layanan purna jual, dan standarisasi perawatan. Tanpa itu, pedagang mobil bekas akan terus mengalami keraguan dan potensi kerugian, yang pada akhirnya bisa menghambat pertumbuhan pasar mobil listrik di Indonesia.

Pesan ke WA : 0811-2999-987

Sumber : CNNIndonesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *